Ini bukan benci


Palembang, 2018.

Aku masih ingat wajah pagi yang kosong, hanya terisi pandang gelisah yang tak tertolong. Aku ingat saat serpihan diri menapakkan kaki di malam, mencari sedikit ceria dari warna lampu kota. Lalu kini malamku hanya di gelap lampu sendiri sambil mendengar tawa jenaka dan lucu sebuah suara. Aku ingat saat aku tak merasa apapun, serasa jantung ini bermata rabun. Aku pernah begitu hancur hingga kemudian dia datang dengan bahagia yang tak terukur. Soal awan, soal hujan, soal kenangan, semua sudah ku tuliskan. Kalimat yang terlumat nyata tak terlihat. Jangan bertanya apa yang ku punya jika yang ku beri hanya berdebu di depan pintu. Kamu tak mengerti, mungkin karena itu aku tak berarti. Tapi jika suatu saat kamu sudah paham semuanya namun aku masih terpandang seperti biasa, carikan aku cara menyerah yang paling pasrah. Tangga pertama, takkan bersama. Terik di jariku hanya lalu di puitis yang kamu tunggu. Berbaliklah dan pergi, toh pundakmu memang yang ku pandang selama ini. Ini bukan benci, ini hanya pesan untuk kamu yang tak mengerti.

5 komentar:

  1. Kelak suatu saat akan ada seseorang yang mengerti mba lebih dari orang sebelumnya. Salam kenal dari Bekasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terimakasih ya hhe
      Salam kenal kembaliya dari Palembang.

      Hapus

Tinggalkan jejak biar aku tahu kamu kesini ..