Sekali ini saja, untuk yang terakhir kali.



Lucunya justru saat ku pikir ini saat ku akan mendengar lagu penutup, justru kini ia tak hanya menguasai pena di tinta yang tercelup, ia merenggut nafasku dan menggantinya dengan dirinya yang kini jadi alasan aku hidup. Keramaian tak lagi terpandang nyata karena hanya ia tuju dari retina dan senandung nada. Saat sadar aku sudah mengambil gitarku dan menulis lirik dengan tulus rasa yang bertemu. Aku berlabuh ke tepi sejenak, namun kamu tetap melekat di benak. Ambil saja penaku dan semua puisi yang tercipta karena goresannya, namun tolong bawa hatiku bersamamu juga. Aku tak punya rencana lain selain menjadi milikmu selamanya, jadi jika kamu juga tak ada rencana, mungkin kini bisa mulai menata bahagia bersama.

---

Melamunkan cara kita saling memandang penuh arti. Aku yang terus menatap pekatnya matamu dan di hati berdoa agar waktu itu tak pernah berlalu. Caramu memandangku, tak meninggalkan satupun gelap untuk aku tangisi. Aku ingat saat berbaring dan sadar bahwa nada bicaramu kini merasuk dan mengiring, semakin sering, semakin ku sadar hadirmu sangatlah penting. Jika kamu lelah, tertidurlah di bahuku. Lagipula ia hanya ada untukmu dan selama ini aku hanya bersikeras menghias ia senyamannya agar saat kamu bersandar di sana, kamu ingin tinggal selamanya. Aku tak berhenti memuji, bukan agar bibirku puas membuat kamu tinggi. Aku hanya terlalu bersyukur kamu ada dan kamu harus tahu itu. Kamu harus tahu bahwa di mataku kamu lebih dari seisi dunia. Kamu harus tahu bahwa di hariku, tak ada detik yang terlewat tanpa aku melamunkanmu dan menenun rindu. Kamu harus tahu, ini hanya terjadi karena kamu dan aku tak ingin apapun lagi selain menatap hujan dan saling melepas ragu.

---

Rima u, di pukul satu. Kamu yang baru, atau hanya aku yang lupa menjauh. 

6 komentar:

Tinggalkan jejak biar aku tahu kamu kesini ..