Sepagi ini, dikotaku



Kita selalu punya waktu di mana kita ingin semua begitu cepat berlalu. Agar semua sendu itu berakhir, agar semua sekejap lupa lalu bisa berjalan meneruskan takdir. Kita juga selalu punya waktu di mana kita tak ingin sebuah detik berdetak seperti biasa. Kita bahkan ingin memohon agar ia berhenti agar kebersamaan itu abadi selamanya. Kita selalu punya pilihan, untuk terluka untuk bahagia. Yang tak semua orang sadari, pilihan berarti perjuangan. Kita tak bisa memilih bahagia namun hanya berharap kebahagiaan datang menjemput kita. Kita tak bisa memilih terluka lalu berharap jika kita terluka pasti akan ada yang menyembuhkan kita. Jadilah ia yang begitu siap terluka karena ketulusan, yang bahkan saat memandangnya kamu tahu ia yang harus bahagia. Dan mungkin, hanya mungkin, kamu juga akan terobati dengan senyum di wajahnya dan jika pada akhirnya kamu tetap tergores juga, kamu bisa tersenyum karena telah tergores untuk orang yang paling berharga.
 
Saat seisi dunia sedang saling menusuk dengan belati yang mereka punya, kita justru mengukir masa dari tajamnya mata yang memandang kita. Mungkin ada yang mencoba membenci dan ada yang coba memahami, tapi aku tak pernah benar-benar peduli. Karena satu yang pasti, kita hidup untuk jadi sebuah inti, bukan untuk jadi pemeran pengganti. Dan akan selalu ada yang iri karena mereka tak punya kacamata yang sama, yang bercermin bahagia dengan rangkaian tawa. Jika hidupmu tak bahagia, apa kamu sudah berjuang untuk itu? Jika hubunganmu tak bahagia, apa kamu yakin ia untukmu? Jika kamu sulit tertawa, apa kamu sudah kehilangan rasa? Atau hanya takut untuk menjadi berbeda.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak biar aku tahu kamu kesini ..