Ibu Kota Baru yang Mengasihi #HarapanIbuKotaBaru

Ibu kota Indonesia - Jakarta
"Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa ....."


Mungkin, sedikit kutipan lagu Ibu pertiwi diatas cukup ya menggambarkan keadaan Ibukota Indonesia (Jakarta) sekarang ini. Apa yang salah dari Jakarta dan segala kemewahannya? pertanyaan itu menjadi pokok utama yang semakin hari semakin hangat.
Beberapa pekan lalu bahkan mungkin sampai sekarang, media berkeliaran menampilkan citra dan berita tentang pemindahan ibu kota Indonesia. Ibu kota RI harus pindah dari jakarta.

Ibu kota merupakan tempat di mana pemerintahan suatu negara mengatur segala hal. Tak sekadar menjadi pusat pemerintahan dan politik, ibu kota juga adalah titik bertemunya aktivitas bisnis hingga budaya.

Memindahkan ibu kota berarti memindahkan semua aktivitas tersebut. Artinya, pemindahan ibu kota bukanlah hal mudah, perlu perencanaan matang serta eksekusi yang kompleks.

Menimbang sederet keluhan yang membuat kerugian negara, alasan utama mengapa kepala Bappenas memikirkan dengan matang Ibukota harus segera dipindahkan dari Jakarta yaitu Banjir, Kemacetan Parah, Kepadatan Penduduk, Sulit mendapatkan air bersih.

MENGAPA IBUKOTA MAU PINDAH?

Masalah banjir tampaknya bukan hal yang sederhana di Jakarta ini. Selain karena sistem pengairan Jakarta yang tidak berfungsi dengan baik, tanah Jakarta yang semakin amblas juga mengakibatkan potensi genangan air semakin meluas setiap tahunnya.


Hal tersebut terjadi karena maraknya pembangunan infrastruktur berat seperti jalan, gedung, rumah, dan jembatan. Alhasil, semakin lama makin banyak daerah yang memiliki level yang lebih rendah dibanding permukaan laut. Akibatnya, sungai yang normalnya bisa mengalirkan air hujan ke laut menjadi terhambat dan mengakibatkan genangan-genangan dan banjir.

Bila pembangunan terus dipusatkan di Jakarta, maka fenomena ini akan berlanjut. Banjir pun akan sulit untuk ditanggulangi.

Kemacetan memang masih menjadi permasalahan kota Jakarta yang hingga saat ini masih sulit untuk dipecahkan.Jelas saja, dengan adanya kemacetan, maka waktu tempuh kendaraan bermotor akan semakin lama. Ujungnya mengakibatkan konsumsi bahan bakar yang tidak efisien. Bayangkan saja jutaan kendaraan terpaksa menghabiskan bahan bakar selama beberapa jam hanya untuk bertahan di titik kemacetan. 

Selain itu, ada pula nilai produktivitas sumber daya manusia yang hilang akibat mobilisasi terhambat. Dalam dunia usaha, ada potensi kerugian peluang (opportunity loss) akibat tidak dapat mengerjakan suatu hal karena harus terjebak kemacetan.
Bila Jakarta terus dijadikan sebagai pusat dari segalanya, maka kemacetan akan semakin sulit untuk diurai.Pada tahun 2030, Bank Dunia memperkirakan 60% dari penduduk dunia (termasuk Indonesia) akan tinggal di kota. Artinya setiap hari akan ada manusia-manusia baru yang memberikan andil terhadap kepadatan penduduk, tak terkecuali Jakarta.

Kepadatan penduduk tentu saja akan membuat kota akan semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Stress yang meningkat akan menggiring tingkat kejahatan lebih tinggi lagi. Maka dari itu kota baru untuk memecah konsentrasi penduduk jelas diperlukan. 
Selain potensi pencemaran yang meningkat seiring padatnya penduduk, konsumsi air tanah yang terus meningkat juga bukan kabar baik bagi sebuah wilayah.

Pasalnya dengan semakin banyak air tanah yang dipompa keluar, maka air asin yang berasal dari laut akan semakin mudah menembus lapisan air tanah Kota Jakarta.

Fenomena ini disebut dengan intrusi air laut, yang menyebabkan kandungan garam pada air tanah meningkat. Kala itu terjadi, air tanah yang biasanya digunakan untuk minum atau mandi menjadi lebih asin dan tidak layak untuk digunakan.


DIMANA IBUKOTA AKAN PINDAH?

Dilansir dari CNN Indonesia, Presiden Joko Widodo memastikan ibu kota negara yang baru akan dipindahkan di Pulau Kalimantan. Jokowi mengatakan saat ini pihaknya tengah membahas penentuan provinsi mana yang akan dijadikan ibu kota baru pengganti DKI Jakarta.
Jokowi menyebut setelah turun ke lapangan dan mendapatkan kajian, meskipun belum selesai 100 persen, pilihan pemindahan ibu kota sudah mengerucut. Pilihannya jatuh pada pulau Kalimantan.
"Sudah semakin mengerucut dan pilihannya juga sudah jelas bahwa ibu kota negara akan dipindahkan di Kalimantan, di Kalimantan, provinsinya di mana, ini yang harus didetailkan lagi," kata Jokowi.


HARAPAN UNTUK IBU KOTA BARU?

Ibu kota yang baru adalah harapan. Selain prima dalam mendukung administrasi pemerintahan, ibu kota juga merupakan etalase negeri. Kita berharap, keberadaan ibu kota baru juga meningkatkan harga diri kita sebagai bangsa.
    Pembangunan yang merata hingga ke pelosok daerah - Jika ada yang bilang infrastruktur tidak penting, besar kemungkinan yang berpendapat belum pernah berkunjung ke pelosok daerah.Coba berkunjung kepelosok daerah saya? Pembangunan infrastruktur menjadi sorotan tentu bukan dengan alasan sederhana. Ini jadi aspek penting karena pembangunan infrastruktur yang merata tentu berpengaruh pada berbagai aspek lainnya. Harapan masyarakat Indonesia yang tinggal di pelosok negeri tidak muluk. Tidak harus menjadi kota metropolitan seperti di Jawa dan beberapa pulau besar lainnya. Cukup dengan kemudahan akses untuk bepergian sehingga memudahkan mobilitas. Termasuk penyaluran listrik sampai di daerah perbatasan. Sesederhana itu harapan kami. Bisakah pemerintahan ibu kota baru bantu mewujudkan?
    Asupan pendidikan yang setara untuk setiap anak di sudut daerah - Indonesia memiliki banyak permata tersembunyi di pelosok negeri. Anak-anak dengan semangat belajar tinggi. Mereka yang cerdas, tapi tertutupi oleh rasa tidak percaya diri. Ditambah lagi tak diimbangi dengan fasilitas dan tenaga pendidik yang mumpuni. Padahal mereka adalah penerus bangsa yang sesungguhnya.Kedepannya, besar harapan seluruh anak Indonesia mendapat asupan pendidikan yang sama. Dengan metode pendidikan yang disesuaikan. Tidak bisa dipukul rata antara anak-anak yang tumbuh besar di perkotaan dan di pelosok desa. Mereka memiliki cara belajar yang berbeda.
    Dewasa ini sudah banyak pengajar muda yang memiliki metode belajar modern dan menyenangkan. Tidak lagi terapkan metode lawas yang kadang sulit dipahami. Pemerintah dapat mengajak mereka berkolaborasi.

    Tenaga medis serta pengajar yang mumpuni dan amanah di setiap daerah - Jika infrastruktur telah usai dibenahi, maka tenaga medis serta pengajar pun harus diimbangi. Meski memiliki status yang diakui, nyatanya masih banyak oknum yang tidak amanah dalam mengemban tugas khususnya mereka yang ditempatkan di pedalaman. Dengan bayaran dan tambahan tunjangan, mereka nyatanya tidak bekerja secara maksimal.Anak-anak tak mendapat asupan pendidikan yang selayaknya. Sering ditinggal tanpa diberi pengajaran. Begitu pula dengan masyarakat setempat yang tidak memperoleh layanan kesehatan di saat darurat. Untungnya, masih ada anak negeri yang rela mengunjungi pelosok negeri untuk mengabdi.
    Hidup di pedalaman memang tidak mudah. Apalagi jika kita fokus pada rupiah. Kedepannya semoga pemerintah benar-benar selektif dalam penempatan tenaga profesional. Bukan kaleng-kaleng, masyarakat butuh yang benar-benar tulus mengabdi.

    Hilangkan diskriminasi, mereka yang tak miliki pendidikan tinggi juga punya kapabilitas tersendiri
    - Kembali pada segi pendidikan. Beasiswa adalah salah satu jembatan yang digunakan untuk meraih mimpi mengenyam pendidikan lebih tinggi. Kendati demikian tidak semua anak muda mendapatkan kesempatan tersebut. Mirisnya, dunia kerja di Indonesia sebagian besar menitikberatkan pada gelar terakhir sebagai skala prioritas. Sehingga mereka hanya akan dipandang sebelah mata.Padahal tidak sedikit orang-orang sukses yang berawal dari pendidikan seadanya. Sebut saja Steve Jobs, Susi Pudjiastuti, Buya Hamka dan masih banyak yang lain. Ditopang oleh usaha dan tekad yang kuat, mereka memiliki kapabilitas serta keunikan tersendiri. Guna meminimalisir terjadinya diskriminasi, pemerintah dapat membantu mereka dengan membuka lapangan kerja yang menitikberatkan pada skill. Bukan hanya gelar terakhir.

    Dukungan jaringan internet untuk membantu kecepatan penyebaran informasi -
    Memasuki era digital kita tidak dapat lagi mengikuti alur dengan patokan pada metode lawas. Sebaran untuk jaringan internet harus diperluas agar penyebaran informasi jadi lebih cepat.
      Para ahli ilmu sosial biasa memakai istilah “negara gagal”, untuk menunjukkan pada pemerintahan yang “gagal” dalam memberi kesejahteraan pada rakyat, bukan hanya sebatas pada aspek ekonomi, namun juga rasa aman. Beberapa pengamat sempat menyebut Indonesia memiliki potensi seperti itu, berdasarkan fakta masih tingginya angka kemiskinan, di tengah negara yang memiliki kekayaan alam melimpah.

      Kawasan atau wilayah yang bakal dibidik sebagai ibu kota baru adalah Kalimantan, artinya condong ke timur Indonesia. Kawasan timur Indonesia adalah paradoks, wilayah dengan sumber daya alam melimpah, namun rakyatnya tetap miskin, ibarat pepatah lama “ayam mati di lumbung padi”.

      Benar, kita membutuhkan ibu kota baru, yang merupakan genuine karya anak bangsa sendiri, sementara Jakarta tetap memiliki posisi terhormat sebagai situs sejarah. Bahwa dari Jakarta pula, dimulai pergerakan nasional melawan kolonial, hingga mencapai puncaknya saat teks Proklamasi dibacakan oleh Soekarno dan Hatta.

      Karena jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Jangan semakin pudar persatuan dan kepedulian, jangan sampai Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Semoga Ibukota baru dapat mengayomi dan mengasihi Indonesia dan bangsanya.

      Salam hangat.